google

Senin, 27 Desember 2010

Ning's Production Dragbike 2010 Jogja: BEBEK 200 CC MAKIN BERGAIRAH

Ning's Production Dragbike 2010 Jogja: BEBEK 200 CC MAKIN BERGAIRAH


Ning's Production Dragbike 2010 Jogja: BEBEK 200 CC MAKIN BERGAIRAH


Realita di arena pacuan karapan motor, muncul kelas bergengsi yang atraktif buat ditonton. Apa itu ? Bebek 4 tak tune up s/d 200 cc yang mulai konsisten disajikan 2010. Seperti juga terbukti dalam pagelaran bertajuk Ning's Production Dragbike 2010 yang berlangsung di lintasan alun-alun Wonosari, Jogjakarta (19/9).


“Disini hadir 35 starter khusus Bebek 4 Tak 200 cc. Totalnya sekitar 400 dragster,“ bangga Nining Jatiningrum selaku promotor penyelenggara berbendera Ning's Production.

Patut dicatat,  konteks di ataspun cukup berlaku di event seputar Jateng-DIY dan Jatim yang notabene jauh lebih meriah dibanding DKI dan Jabar. Memberi optimisme kategori bebek 4 tAK 200 cc ini akan semakin ramai.

“Maklum saja, dalam balap liar kelas tersebut memang sudah populer,“ tutur M Yusron, mekanik berbendera Alifka Motor yang banyak menukangi pacuan dragster papan atas macam Eko Chodox, Antonius Petruk, Taufik Omphonk dan Dadang Handaru.

Kebanyakan kiliker tertarik karena menjadi tantangan tersendiri mekanik sekaligus joki dengan basic motor bebek yang tergolong kecil namun volume silinder yang gede. Secara teori, muatan cc memang berpengaruh signifikan. Namun bukan jaminan, butuh ketekunan riset.

Macam Jupiter Z milik M Yusron yang cukup mengganti piston dengan kepunyaan orsi Tiger (63,5 mm) dan stroke masih standar pabrik (54 mm). Jika dihitung dengan rumusan Cylinder Volume (CV) diperoleh bore-up mencapai 170,9 cc.

“Pilih aman saja, makin besar cc lebih berisiko. Paking makin rentan termasuk dayatahan permukaan piston dikarenakan klep yang semakin gede. Ingat, kreto drag bermain dengan kompresi tinggi,“ terang Yusron yang memiliki waktu terbaik saat ini dengan torehan best-time 8 detik untuk jarak 201 meter.

Lain hal trik yang dilakukan kiliker Mamech Techno. Mengandalkan basic Satria FU 150. Sedikit lebih berani, mengaplikasi piston milik Scorpio (70 mm), sedang stroke naik menjadi 2 mm (50, 8 mm) hingga didapat volume silinder 195 cc. “Masih dalam tahap ujicoba settingan. Jadi waktu terbaik masih kisaran 8,2 detik,“ tutur Mamech yang bermarkas di kawasan Babarsari, Jogjakarta.

Menyangkut animo peserta bebek 200 cc sendiri, dipastikan akan makin berkembang pesat. Mengingat tidak terfokus pada satu label kudabesi. Semua bisa ikut, baik yang standarnya dibekali seputar angka 110 cc-115 cc macam Shogun 110, Smash, Vega, Jupiter Z, Astrea, Karisma, Kaze, Blitz dan lainnya ataupun sudah dijejali silinder antara 135 cc-150 cc macam MX 135 atau Satria FU 150. Terpenting masih jenis bebek.

So, hal signifikan yang menjadikan kategori ini makin menarik dicermati karena faktor diperbolehkannya memperbesar volume mesin sampai 200 cc. Saat event dragbike Wonosari lalu, yang mengaplikasi Satria FU masih sedikit. Hanya tiga petarung. 

Selebihnya didominasi Jupiter Z, Vega, Crypton dan Karisma. Diklaim biaya perawatan FU 150 lebih memakan biaya dikarenakan faktor bawaan mesin yang disupport dua camshaft dan empat klep. Sekali lagi, sayangnya bebek 200 cc belum akrab di penyelenggara seputar DKI dan Jabar.

Macam dragbike Bandung dan dua kali di Jakarta belum lama ini. Padahal jika mulai disosialisasikan akan berdampak positif. Di antaranya pertama, mulai tersalurnya besutan petarung di balap liar. Ingat, begitu banyak tersebar trek liar di DKI Jakarta. Keuntungan kedua, pelaga di area Jateng-DIY dan Jatim akan ikut ambil bagian juga.

Anyway, bebek 200 cc terdengar sangar dalam pemikiran tukang kilik dan menjadi semangat juang tersendiri untuk membangunnya. Ayo, semuanya harus serempak menghajat bebek 4 tak tune-up 200 cc. | Ogy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar